Rabu, 25 Februari 2009

Inspirasi Kecil tentang Kecintaan Membaca




Membaca sewajarnya menjadi aktivitas yang dekat dengan para mahasiswa. Kuliah menuntut kekayaan wacana dan wawasan yang mendorong saya dan teman-teman sekalian untuk semakin dekat dengan buku serta beraneka referensi penunjang lainnya. Informasi surat kabar, majalah, atau artikel dari internet merupakan sumber yang sering kita akses dan menjadi bahan bacaan untuk memperkaya khasanah pengetahuan. Namun, apakah kita benar-benar sudah mempunyai kebiasaan membaca? Jangan-jangan bahan bacaan tadi menjadi akrab bagi kita ketika terdesak untuk merampungkan tugas kuliah saja?


Kaum Muda ’Tempo Doeloe’ yang Menginspirasi

Ada banyak tokoh mahasiswa yang namanya sudah terukir oleh sejarah. Perjuangan mereka terbukti sudah menciptakan perubahan bagi negeri ini. Sebut saja Soe Hok Gie yang pada era 1966 begitu teguh pada prinsip berjuang lewat penanya. Atau Auwjong Peng Koen yang kemudian lebih dikenal PK. Ojong dengan perjuangannya menyuarakan persamaan hak bagi masyarakat Tiong Hoa. Pada 1954, PK Ojong bersama Siauw Giok Tjhan, Yap Thiam Hien, Go Gien Tjwan dan Oei Tjoe Tat tergabung dalam Baperki yang fokus memperjuangkan hak masyarakat Tiong Hoa di Indonesia.


Kita juga pasti masih ingat detik-detik menjelang proklamasi kemerdekaan bangsa ini. Tanggal 16 Agustus tokoh-tokoh muda kita mengambil insiatif untuk mengamankan Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdengklok. Padahal satu minggu sebelum proklamasi kemerdekaan, tanggal 9 Agustus 1945, Ir. Soekarno, Drs. Mohammad Hatta dan Dr. Radjiman Wediodiningrat singgah ke Taiping yang terletak di Semenanjung Malaya. Di Taiping mereka mengadakan pertemuan dengan para pemimpin gerakan kebangsaan Melayu untuk membicarakan upaya persiapan kemerdekaan. Dan mereka bersepakat untuk menyatakan kemerdekaan bangsa pada tanggal 22 Agustus 1945. Namun, atas desakan teman-teman muda waktu itu, akhirnya proklamasi kemerdekaan dinyatakan lebih awal dari kesepakatan sebelumnya pada tanggal 17 Agustus 1945.


Mereka, kaum muda serta mahasiswa pada zaman itu telah menorehkan sejarah perjuangan. Sumbangan mereka bagi negeri ini sangatlah besar. Yang terutama bagi mahasiswa masa kini adalah inspirasi dan nilai keteladanan yang mereka wariskan. Dalam kondisi yang serba menghimpit, dengan penuh semangat Soe Hok Gie, Auwjong Peng Koen, dan teman-teman era 45 berjuang membuat sebuah perubahan ke arah lebih baik.


Kaum muda ’tempo doeloe’ sangat sensitif dengan permasalahan kebangsaan. Dari hari ke hari mereka semakin menyadari bahwa modal utama untuk membebaskan Indonesia dari tangan penjajah adalah kekayaan pengetahuan. Mulailah bermunculan intelektual-intelektual muda yang begitu getol mempelajari sejarah kelam masa lalu Indonesia serta berbagai pengetahuan yang sebelumnya terpendam bagai harta karun. Mereka mulai mencintai kebiasaan membaca, berargumen baik secara lisan maupun tertulis, serta menajamkan gagasan lewat diskusi. Itu semua digerakkan oleh sebuah cita-cita luhur yakni menuju alam kemerdekaan.


Kebiasaan membaca semakin memperkaya isi kepala para intelektual muda ‘tempo doeloe’ dengan berbagai perspektif tentang perjuangan pembebasan Indonesia. Kekayaan pengetahuan dan gagasan itu pun mendorong mereka untuk berbagi dengan yang lain. Banyak terbitan surat kabar mulai berdiri. Salah satunya adalah koran Keng Po yang berdiri pada tahun 1945. Waktu itu pemimpin redaksi terbitan ini adalah Injo Beng Goat yang kemudian menjadi teman karib PK. Ojong. Keng Po sempat ditutup karena dirasa terlalu frontal menentang Jepang. Namun, pada 2 Januari 1947 hidup kembali dan semakin setia menajamkan wacana kritis masyarakat era itu dengan semangat perjuangan.


Selain terbitan koran Keng Po, lahir pula terbitan majalah mingguan Star Weekly pada 6 Januari 1946. Pada awal terbitnya, majalah ini dipimpin oleh Tan Hian Lay. Kemudian Auwjong Peng Koen semakin terlibat membesarkan majalah mingguan tersebut. Auwjong menunjukkan dedikasi yang tinggi pada majalah ini. Ia juga merupakan sosok yang sangat gemar membaca, karenanya kemudian ia dipercaya sebagai redaktur pelaksana Star Weekly.


Terkait kebiasaan membaca Auwjong, Helen Ishwara dalam Hidup Sederhana Berpikir Mulia PK. Ojong, berkisah banyak. “Buku catatan harian Auwjong penuh judul buku, tanggal, dan harga pembeliannya. Ia rajin menjelajahi toko buku, buku baru atau pun bekas. Kalau menginap di Bandung, di rumah sahabatnya semasa di HCK, Liem Boen Tik, ia bukan hanya senang nongkrong makan sate di kota sejuk ini, tetapi juga tidak lupa pergi ke pasar loak, tempat buku-buku bekas digelar.” Ojong benar-benar mencintai buku.


Belajar dari Mereka

Mahasiswa masa ini – saya dan teman-teman sekalian, agaknya perlu banyak belajar dari sosok seperti PK. Ojong, Injo Beng Goat, Soe Hok Gie, serta tokoh-tokoh muda Rengasdengklok. Mereka tampil sebagai kaum muda yang memiliki intelectual habits. Ojong dan Injo adalah pemimpin redaksi yang kaya wawasan karena mereka berdua sama-sama kutu buku. Gagasan mereka diikuti oleh banyak orang. Soe Hok Gie dan tokoh muda Rengasdengklok juga patut diteladani. Mereka memiliki keteguhan prinsip. Sangat gemar menajamkan gagasan lewat diskusi dan punya kepercayaan diri untuk berargumen.


Di zaman ini pun muncul sosok pahlawan intektual yang begitu getol menyebarkan virus gemar membaca. Dari sebuah artikel di harian KOMPAS, edisi 8 November 2008 saya menemukan kutipan seperti ini: “Saya tidak akan pernah berhenti mengajak bangsaku untuk gemar membaca agar menjadi bangsa yang cerdas supaya kelak dapat menyelesaikan persoalan bangsa.” Itulah pernyataan Parmanto, lelaki berusia 62 tahun yang berkomitmen mengajak sebanyak-banyaknya orang agar mempunyai kebiasaan membaca.


Mantan pegawai Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah itu, sejak tahun 2005 mengusahakan pendirian taman bacaan umum. Ia merelakan salah satu rumahnya untuk diisi 2000 koleksi buku berupa komik, novel, buku pelajaran, dan bahan skripsi dan menamainya “Taman Bacaan Mortir Parmanto.” Mula-mula taman bacaan yang berlokasi di Jalan Meranti Timur Dalam I/346, Banyumanik, Semarang tersebut setiap hari didatangi oleh 20-30 pengunjung. Namun, kini jumlah pengunjung mulai berkurang, hanya sekitar 10 orang saja setiap harinya dan sebagian besar adalah siswa Sekolah Dasar.


Itulah sekelumit cerita dari figur seorang Parmanto yang mewakili para pecinta buku dan sadar akan arti penting membaca. Parmanto tidak menyimpan sendiri kekayaan khasanah pengetahuannya. Ia ingin berbagi dengan orang lain, mengajak sebanyak-banyaknya teman, tetangga dan para kerabat untuk mulai gemar membaca.

Semoga, mahasiswa zaman ini – saya dan teman-teman sekalian semakin menyadari arti penting membaca. Paradigma membaca buku sekedar untuk menyelesaikan tugas kuliah terkikislah sudah. Mari kita amini buku sebagai sumber kekayaan ilmu. Semakin memperdalam isi kepala kita, menambah wacana dan gagasan untuk berargumen serta memantapkan pribadi para mahasiswa sebagai calon intelektual muda masa ini. Itu semua lahir dari sebuah kesetiaan untuk mau duduk berdiam beberapa lama sembari mengunyah harta di dalam sebuah sumber bacaan – apa pun itu wujudnya.(Yohanes Thianika Budiarsa – Ketua PRMK FISIP UNDIP periode 2007/2008).

Selasa, 06 Januari 2009

MEMBANGUN KESOLIDAN MAHASISWA KATOLIK

Rasa kebersamaan diantara sesama komunitas mahasiswa Katolik tingkat kampus di kota Semarang rupanya menjadi kebutuhan yang tidak dapat dielakkan. Banyaknya komunitas mahasiswa di 40 kampus di Semarang serta tersebarnya lokasi kampus di wilayah kota Semarang menumbuhkan keinginan untuk terus menjaga serta meningkatkan kualitas interaksi diantara sesama mahasiswa.

Hal tersebut setidaknya dapat ditangkap dari lontaran sekitar 50 orang mahasiswa yang terlibat saresehan "Membina Ikatan Persekutuan Keluarga Kudus", yang diselenggarakan usai Misa Bulanan Komunitas Driyarkara. Keinginan untuk saling berbagi solusi atas persoalan internal tiap komunitas dan permasalahan yang secara umum terjadi di tingkat mahasiswa begitu terasa dalam acara yang diselenggarakan pada tanggal 2 Januari di Wisma Mahasiswa Driyarkara tersebut.

Selaku Pastor Moderator Mahasiswa, Romo Blasius Edy Wiyanto menyampaikan harapannya akan keterlibatan kaum muda, termasuk didalamnya adalah kelompok mahasiswa, dalam dinamika sosial yang terjadi saat ini. Persoalan internal, seperti tingkat keaktifan anggota atau kurangnya sarana pendukung kegiatan kemahasiswaan, hendaknya dijadikan persoalan bersama serta diupayakan adanya pemecahan secara bersama pula.

Tahun 2009, menurut Romo Edy, merupakan saat yang tepat bagi mahasiswa Katolik untuk memulai upaya keterlibatan sosial di kalangan mahasiswa jika mengingat momentum "Tahun Kaum Muda" yang dicanangkan oleh Keuskupan Agung Semarang. Keterlibatan kaum muda dalam dinamika kemasyarakatan kontemporer juga merupakan salah satu perwujudan nyata iman orang Katolik dengan Yesus sebagai teladan gerakan.

Pemaknaan kolektif akan posisi dan peran mahasiswa Katolik dalam dinamika kampus, masyarakat, serta Gereja lantas menjadi hal yang mutlak guna mewujudkan suatu upaya nyata gerakan mahasiswa Katolik. Kohesivitas antar kelompok mahasiswa Katolik mutlak diperlukan untuk mewujudkan satu langgam gerak bersama para mahasiswa yang hanya akan berakhir saat kemanusiaan, keadilan sosial, dan persaudaraan sejati telah terwujud dalam tatanan kehidupan masyarakat.

Tidak mudah memang. Namun dengan bijak Romo Mangun menyampaikan pesan berharga bahwa, "Tidak mudah itu berbeda dengan mustahil". Dan satu hal yang pasti bahwa upaya ini tidaklah menarik minat banyak orang. Lebih banyak orang yang memilih anut grubyug, ikut arus, daripada pusing memikirkan apa yang terbaik bagi masyarakat luas. Namun Romo Mangun telah menyampaikan kalimat bijak lainnya bahwa suatu perubahan pasti selalu dimulai dengan segelintir orang. Tugas kita sekarang adalah senantiasa menjaga semangat perubahan itu tetap hidup serta meluaskan kepada sebanyak mungkin orang.

Tugas berat memperjuangkan perubahan itu hanya bisa dimulai dengan rasa kebersamaan antara sesama kelompok mahasiswa dan solidaritas kelompok mahasiswa dengan kelompok masyarakat lainnya. Berat, namun bukan berarti mustahil!.(Agustinus Ariawan)

SELAMAT MENEMPUH HIDUP BARU





Proficiat kepada Irene Koernia Arifajar dan Agung Sunantio yang telah melangsungkan pernikahan pada tanggal 28 Desember 2008.
Doa dan dukungan seluruh anggota PMKRI Cabang Semarang Sanctus Gregorius senantiasa menyertai Anda berdua.

Kamis, 25 Desember 2008

BAGAI BERSERU DI PADANG GURUN

Rabu 17 Desember 2008. Sejak siang hujan deras mengguyur kota Semarang hingga pukul 18.30. Namun cuaca yang kurang bersahabat tersebut ternyata tidak menghalangi umat, romo, dan suster paroki St. Familia Atmodirono untuk hadir dalam saresehan ASG (Ajaran Sosial Gereja). Nampaknya keinginan dan minat umat Katolik untuk berkumpul serta berdiskusi guna membahas fenomena serta gerakan sosial dari perspektif gereja Katolik begitu kuat sehingga kegiatan yang berlangsung di Panti Mandala tersebut dihadiri oleh tak kurang dari 50 orang.

Semula yang akan menjadi pembicara pada saresehan tersebut adalah Romo PK4AS (Penghubung Karya Kerasulan Kemasyarakatan Keuskupan Agung Semarang), Romo Sugihartanto Pr, dan Andreas Pandiangan, M.Si, Dosen Unika Soegijopranoto yang juga anggota KPU Jawa Tengah. Tetapi karena Pak Andreas berhalangan, maka dr. Gregorius Sudargo dari FMKI (Forum Masyarakat Katolik Indonesia) Jawa Tengah kemudian menggantikan posisi beliau sebagai pembicara.

Saresehan dibuka dengan paparan dari Romo Sugi. Seraya mengungkapkan pertemuannya dengan salah satu aktivis Islam, Gus Nuril, di Watugong beberapa waktu sebelumnya. Gus Nuril berpesan kepada Romo supaya umat Katolik lebih banyak terlibat dalam persoalan kemasyarakatan sehingga “terlihat api dan cahayanya”. “Orang katolik itu sebenarnya mutiara, tetapi kok hanya dipendem (disembunyikan). Padahal kalau mutiara itu keluar maka akan memberi warna yang baik”, ungkap Romo. Menurutnya, hanya di Katolik-lah pimpinan tertinggi agama, yaitu Paus, mengeluarkan seruan-seruan sosial dalam bentuk dokumen. Sedangkan di agama lain hal yang sama tidak ditemui. Romo juga mengungkapkan bahwa ia semakin tergelitik setelah mengetahui bahwa di pondok pesantren yang dipimpin Gus Nuril mempunyai koleksi dokumen ASG yang sangat lengkap, bahkan Gus Nuril juga mengajarkan ASG kepada para santrinya.

Dan saat Romo menanyakan apakah ada diantara peserta yang mempunyai dokumen-dokumen ASG, ternyata tidak ada seorangpun yang mengacungkan jari. Hal yang sungguh ironis jika mengingat bahwa pihak yang mengeluarkan ASG justru tidak dipelajari oleh umatnya sendiri. “Mengajarkan ASG seperti Santo Yohanes Pembaptis yang berseru-seru di padang gurun tanpa ada yang mendengarkan”, ujar Romo saat menanggapi realitas yang dialami Gereja Katolik.

Ia juga menyatakan bahwa setidaknya terdapat tiga hambatan ketika Gereja Katolik, termasuk Keuskupan Agung Semarang, ingin meluncurkan ASG supaya diperdalam umatnya. Pertama, realita bahwa Gereja masih lebih menitikberatkan sisi ibadah atau ritual dibanding gerakan. Kedua, orang Katolik yang hidup berkecukupan tidak memiliki kepedulian terhadap mereka yang menderita. Sedang ketiga, adanya ketakutan bahwa posisi Katolik adalah minoritas.

Sedang dr. Greg selaku pembicara kedua membahas ASG dalam praktek. Menurutnya, ASG sebenarnya tidak memberikan solusi teknis bagi setiap permasalahan sosial yang ada. Peran ASG lebih sebagai “bintang penuntun” yang dapat kita gunakan dalam menyikapi persoalan sosial. Sedangkan politik praktis adalah strategi yang dapat dipakai guna menyampaikan aspirasi terkait persoalan sosial tersebut.

Artinya, tambah dr. Greg, dibutuhkan pendidikan politik yang cerdas bagi umat Katolik. Melalui “demokrasi yang baik”-lah nilai – nilai ASG bisa diangkat. Dan berbicara tentang demokrasi, ia memberikan penjelasan bahwa terdapat dua macam demokrasi, yakni demokrasi prosedural dan demokrasi deliberatif.

Demokrasi prosedural dapat kita amati pada saat pemilu, dimana proses tersebut melalui mekanisme voting. Sedang demokrasi deliberatif, dalam praktek, lebih menitikberatkan pada diskusi untuk memecahkan suatu masalah. Di Amerika Serikat pada awal berdirinya negara, demokrasi deliberatif lebih ditekankan. Baru setelah demokrasi ini berjalan maksimal maka dibuatlah sistem demokrasi prosedural yang matang. Di Indonesia, jelas dr. Greg, ada kesalahan dimana semua pengambilan keputusan sampai pada taraf yang terkecil justru lebih menitikberatkan pada voting semata tanpa mendalami permasalahan terlebih dahulu.

Praktek ASG memang masih menjadi persoalan tersendiri. Romo Suryo, MSF selaku pastor paroki dalam sambutan penutupnya juga menyampaikan kegelisahan serupa. “Kita sering mendalami ASG, tetapi tidak melaksanakannya”, katanya. Ia juga menyampaikan pertanyaan tentang apa saja yang dilakukan anggota legislatif dan caleg Katolik ketika RUU perburuhan yang merugikan buruh ditetapkan?. “Tidak ada suaranya”, tegas Romo Suryo. (Lukas Wahyu Wardiatmoko).

Rabu, 17 Desember 2008

PELANTIKAN DPC PMKRI CAB SALATIGA


Keterlibatan mahasiswa Katolik dalam persoalan sosial masyarakat menjadi hal yang sangat penting. Hal itu dimaknai sebagai perwujudan iman Kristiani dalam kehidupan nyata. Demikian disampaikan Tri Adi Sumbogo, Ketua Presidium PP PMKRI St. Thomas Aquinas periode 2008/2010, saat melantik DPC PMKRI Cabang Salatiga St. Markus periode 2008/2009 tanggal 6 Desember 2008 lalu di SD Kanisius Cungkup, Salatiga.


Menurut Adi, PMKRI sebagai organisasi yang berbasis mahasiswa harus mampu mengubah dirinya menjadi organisasi gerakan mahasiswa dengan tetap berpegang teguh visi misi PMKRI. Tantangan dan hambatan yang ada harus dihadapi dan dipecahkan bersama baik di tingkat cabang, regio, atau nasional.


Sementara itu Ketua Presidium PMKRI Cabang Salatiga St. Markus periode 2008/2009, Anna Marie Happy Handayani, mengatakan bahwa tantangan yang dihadapi mahasiswa Katolik, terutama di bidang akademik, tidak serta merta dijadikan alasan untuk tidak mengupayakan gerakan yang berpihak kepada kaum miskin dalam tubuh organisasi PMKRI. Ia juga meminta kerjasama yang baik diantara para pengurus guna menjalankan kerja organisasi serta membangun kembali PMKRI Cabang Salatiga setelah sempat meredup dinamikanya dalam satu tahun terakhir.


Dalam pelantikan tersebut, hadir pula para anggota PMKRI dari cabang Salatiga dan Semarang, para anggota penyatu PMKRI Cabang Salatiga, serta para tamu undangan. (Aa’).


Berikut DPC PMKRI Cabang Salatiga St. Markus periode 2008/2009:


Ketua Presidium : Anna Marie Happy Handayani
Sekretaris Jenderal : Antonius Danny Kurniawan
P. Pengembangan Organisasi : Kristian Andy Wibisono
P. Pendidikan : Peter
P. Gerakan Kemasyarakatan : Rena Danang Jaya
Bendahara : Megawati Oegijono, SE
Biro Studi dan Skill : Matta Prasetya
Biro Gerakan Kemasyarakatan: Lukman, SE


Kamis, 04 Desember 2008

MEMAHAMI KEDUDUKAN DAN PERAN INTELEKTUAL MUDA DALAM DINAMIKA SOSIAL KEMASYARAKATAN

“Pada dasarnya, semua orang punya potensi menjadi intelektual, sesuai dengan kecerdasan yang dimilikinya. Tetapi tidak semua orang adalah intelektual dalam fungsi sosial”
(Antonio Gramsci)


Sejarah menunjukkan, bahwa setiap peristiwa-peristiwa besar di dunia seperti revolusi, restorasi dan reformasi, kenyataannya telah aktor-aktor penting didalamnya. Adalah Sukarno, sewaktu muda (mahasiswa) sudah mulai aktif terlibat secara langsung dalam pergerakan nasional. Indonesia merdeka! Itulah cita-cita seluruh anak negeri selama mengalami kepahitan ratusan tahun dibawah cengkeraman penguasa Kolonial. Bagi para pemuda, pelajar dan mahasiswa masa kolonialisme, mengabdikan seluruh hidupnya bagi kemerdekaan rakyat nasional adalah sebuah tuntutan sejarah yang harus mereka jalani.

Bagi seorang Sukarno dan kaum intelektual lainnya seperti Hatta, Syahrir membentuk Studie Club , merupakan praktek nyata guna membumikan gagasan-gagasan intelektual ke ranah perjuangan. Hal yang sama, sebelumnya juga pernah dilakukan Pergerakan Tmana Siswa dibawah pimpinan Ki Hajar Dewantoro pada th 1921. Tujuan gerakan ini yakni, mengembangkan suatu sistem pendidikan yang mendasar pada suatu sintesa realistis dari kebudayaan Indonesia dan kebudayaan Barat yang kelak bisa mendidik pemuda Indonesia untuk berdikari dan mengembangkan dalam diri mereka menyelesaikan masalah-masalah praktis yang mereka hadapi . Dengan demikian, cita-cita luhur Pergerakan Taman Siswa diproyeksikan dalam membentuk karakter intelektual muda yang peka terhadap realitas sosial kemasyarakatan.

Baik Studie Club dan Taman Siswa hanya merupakan sebagian kecil wadah perjuangan kaum-kaum cendekiawan, namun cukup mengguncangkan pemerintah kolonial Hindia Belanda. Beberapa pemimpin-pemimpin seringkali harus diganjar dengan hukuman penjara maupun pengasingan, karena gagasan-gagasan nasionalismedianggap mengganggu ketertiban umum. Hatta dan Syahrir dibuang ke kamp konsentrasi Tanah Merah Boven Digul pulau Papua, sedangkan Sukarno di Ende pulau Flores, sebab Belanda khawatir kalau pimpinan-pimpinan nasional ini tidak segera dihentikan gerakannya akan mengancam kekuasaan. Masa-masa pengasingan adalah masa sulit, namun tidak demikian bagi Sukarno, selama masa pengasingan ia dekat dengan para nelayan dan petani di Endeh. Sukarno menghimpun para petani kelapa dan nelayan Endeh yang buta huruf dalam kelompok seniman Teater Rakyat. Dimanapun Belanda memberikan hukuman pengasingan, disitulah pimpinan-pimpinan nasional berkarya dengan mendekatkan diri kepada rakyat.

Layaknya sebuah cerita usang, peran sejarah pimpinan-pimpinan nasional yang melahirkan tentang gagasan-gagasan dibidang pendidikan, kebudayaan dan nilai-nilai kebangsaan terenggut pusaran arus modernitas. Bahkan, pemerintahan sekarang telah mereduksi catatan-catatan sejarahnya sendiri. Dunia kampus seolah-olah menjadi lumpuh, ketika dihadapkan dengan arus mekanisme pasar.

Intelektual Dalam Arus Liberalisme

Ketimpangan sistem pendidikan sudah menjadi persoalan sebelum bangsa Indonesia merdeka. Keruntuhan Sistem Tanam Paksa (STP) pada th 1870 ditandai dengan arus liberalisme di Hindia Belanda, seiring itu pula Undang-Undang Pokok Agraria mengalami perubahan. Pihak swasta berhak mengelola, memanfaatkan dan menguasai sumbere-sumber ekonopmi yang sebagian berupa lahan pertanian dan perkebunan sebebas-bebasnya. Pada periode ini investasi asing mulai diberi keleluasaan di Hindia Belanda.
Sektor pendidikan sangat dibutuhkan, para pengusaha membutuhkan tenaga-tenaga administratif dalam mengembangkan usaha. Bersamaan dengan itu pula Undang-Undang tentang pendidikan yang pertama kali, disahkan pada th 1871 (endiq pratama; 1999). Sekolah dasar hingga sekolah tinggi mulai dibuka, para Bumi Putra memperolah kesempatan mengenyam pendidikan. Kepentingan pemerintah kolonial mendirikan sekolah-sekolah ini semata-mata hanya untuk mencetak intelektual-intelektual yang siap dilempar ke pasar tenaga kerja. Praktis tenaga-tenaga terdidik Bumi Putra hanya untuk mencukupi stock pegawai pemerintahan Belandadan karyawan perusahaan-perusahaan milik swasta. Namun sekolah ini hanya diperuntukkan para anak-anak bangsawan atau klas priyayi juga sedikit anak-anak keturunan Belanda, jadi anak petani dan rakyat jelata tidak diperbolehkan untuk memperoleh pendidikan ini.

Krisis di level bawah mulai terjadi, petani penggarap dan buruh tani mulai tidak mampu membayar pajak berupa uang kepada pemerintah kolonial. Di lain pihak akumulasi keuntungan para pengusaha Belanda semakin berlipat ganda. Banyak para petani yang meninggalkan lahannya menjadi buruh-buruh di perusahaan Belanda, sedangkan para buruh petani yang tetap melunasi pajak akhirnya terjebak bujuk rayu rentenir, justru hal ini menambah penderitaan petani. Kondisi ini melahirkan protes di kalangan petani. Di Kerajaan Mataram misalnya, terdapat gerakan protes kaum tani yang disebut pepe (berjemur diri). Mereka datang berduyun-duyun ke alun-alun depan keraton. Gerakan ini sebenarnya merupakan demonstrasi massa untuk memprotes suatu keadaan dan mohon keputusan dari raja sendiri. Rakyat pedesaan melakukan gerakan ini, menurut Emmanuel Subangun, karena keraton Jawa tidak mempunyai jaringan birokrasi yang memungkinkan pusat kekuasaan menangkap aspirasi dan masalah rakyat pedesaan .

Situasi krisis yang disebabkan kebobrokan sistem pemerintahan Hindia Belanda melahirkan semangat nasionalisme di kalangan intelektual Bumi Putra. Pada tahun 1909 seorang jebolan OSVIA (sekolah pamong praja) bernama Tirtoadisoeryo, meninggalkan pekerjaannya dalam pemerintahan Hindia Belanda lalu menjadi pemimpin redaksi harian berbahasa Melayu, Medan Priyayi, sebuah harian yang bersikap kritis terhadap pemerintahan Hindia Belanda. Lalu di Jakarta Tirtoadisoeryo mendirikan Serikat Dagang Islam (SDI), agar pedagang-pedagang pribumi mampu melawan pedagang-pedagang Tionghoa serta mendorong rakyat Hindia mampu beremansipasi dalam segi ekonomi (Imam Sujono: 2006). Walaupun sebagai keturunan klas priyayi, Tirtoadisoeryo dengan menggunakan Medan Priyayi mampu menelanjangi kebobrokan rezim kolonial. Peran media waktu itu ternyata mampu menggugah golongan terpelajar Bumi Putra lainnya, hingga pada tahun 1909 muncul organisasi-organisasi modern seperti Boedi Oetomo yang dipelopori Soetomo seorang mahasiswa STOVIA (sekolah tinggi kedokteran).
Ada dua hal yang dapat kita simpulkan mengenai catatan diatas; pertama, pemerintah kolonial medirikan sekolah yang diperuntukkan warga pribumi hanya sebagai bentuk kompromi (politik etis) karena telah mengeksploitasi sumber-sumber agraria karena liberalisme ekonomi yang dipraktekkan pemerintah Hindia. Pendidikan juga bagian dari investasi, selain untuk mencetak tenaga-tenaga administrasi di perusahaan-perusahaan dan pemerintahan, rata-rata mereka yang telah memperoleh akses terhadap pendidikan yakni klas atas seperti priyayi, bangsawan dan keturunan Belanda. Yang kedua, pendidikan kolonial kenyataannya telah melahirkan pemikir-pemikir pergerakan nasional. Penderitaan rakyat dan kekejaman kolonialisme mampu mendorong kepekaan intelektual kaum terpelajar, selanjutnya mendorong munculnya konsep nasionalisme sebagai pilar perjuangan kemerdekaan.

Kondisi pendidikan sekarang sebenarnya tidak jauh beda, biaya kuliah mahal akhirnya menelantarkan akses si miskin terhadap sekolah yang layak. Privatisasi kampus, menjamurnya sekolah-sekolah bertaraf internasional dan memburuknya sistem pelayanan pendidikan negeri adalah fenomena pergerakan liberalisme dalam bidang pendidikan. Mampukah dunia pendidikan sekarang memproduksi kaum-kaum intelektual yang peka terhadap problem sosial?

Mahasiswa Bagaimana Seharusnya

Sejak zaman kolonial hingga terbentuknya republik ini, sejarah intelektual Indonesia tidak bisa dilepaskan dari konflik penguasaan sumber daya alam yang ekonomis (Bambang Prakoso; 2008). Rezim kolonial selama berabad-abad menguras sumber-sumber kekayaan alam, selain itu kolonialisme juga memeras tenaga rakyat dengan kerja paksa. Warga negara telah mengabdikan tenaganya dalam waktu yang sangat lama untuk mengakhiri pelanggaran-pelanggaran tertentu: pemerasan tenaga kerja, hukuman fisik, pemberian gaji yang tidak adil, hak berpolitik yang dibatasi (Frantz Fanon: 2000).

Peran intelektual yang demikian mengukuhkan legitimasi atas bangsanya selama penindasan berlangsung. Label kaum intelektual muda selalu dilekatkan kepada mereka yang menanamkan dirinya mahasiswa. Lalu mengapa demikian? Rasa-rasanya sebutan mahasiswa adalah kaum intelektual masih asing banget di telinga, apalagi untuk dipahami hakekat sebutan tersebut. kenyataannya berbagai kalangan menyematkan identitas mahasiswa identik dengan kaum intelektual muda. Padahal yang bisa dipahami saat ini ketika mulai mendaftarkan diri di universitas, sudah ada pengertian sebelumnya. Melalui orang tua, saudara, teman dan handai taulan yang lain memberikan petuah, apa tugas-tugas utama selama di bangku kuliah dan apa yang meski kita gapai setelah lulus nanti. Dan jawabannya adalah belajar dengan tekun sehingga dapat lulus cepat dengan Indeks Prestasi dimungkinkan bisa mendapat pekerjaan yang layak. Pada dasarnya jawaban tersebut benar adanya, bahkan umumnya semua mahasiswa meng-idealisasi-kan cita-cita seperti itu.

Kenyataannya sungguh di luar yang diperkirakan, dari data tahun 2006 jumlah pengangguran di Indonesia mencapai 70 % dari total angkatan kerja sebesar 110 juta orang. Disini 50 % jumlah penganggur mereka yang termasuk kategori angkatan muda (17-30 tahun), dari angka ini sudah termasuk didalamnya mahasiswa.

Dalam peristiwa revolusi nasional di Aljazair, Fanon menjelaskan kebangkitan kaum intelektual pribumi yang bertekad melawan kebohongan kolonial, berjuang di daratan diseluruh benua . Dalam membaca kembali mandat gerakan (Jurnal benang merah), Bambang memberi pertanyaan simpul persoalan negeri ini. Berapa banyak darah rakyat yang tertumpah akibat penjajahan modal dan penjajahan politik kaum kolonial asing? Disinilah peran sejarah mahasiswa akan diusik kembali pada setiap peradaban, saat ini dan yang akan datang.

(Fx. Sugiyanto, Presidium Gerakan Kemasyarakatan PMKRI Cabang Surakarta Santo Paulus periode 2007-2008)